Tak melulu curahan hati atau ungkapan perasaan. Sebut saja sebuah karya, permainan kata atau sekedar sandiwara.
Tampilkan postingan dengan label Sapardi Djoko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sapardi Djoko. Tampilkan semua postingan
Jumat, 09 Maret 2012
Hatiku Selembar Daun
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Bunga
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
BUNGA, 1
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia rekah di tepi padangwaktu hening pagi terbit;
siangnya cuaca berdenyut ketikanampak sekawanan gagak
terbang berputar-putar di atas padang itu;
malam hari ia mendengar seru serigala.
Tapi katanya, "Takut? Kata itu milik kalian
saja, para manusia. Aku ini si bunga rumput, pilihan dewata!"
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia kembang di sela-selageraham batu-batu gua pada suatu
pagi, dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua itu dan udara
ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm dan terdengar seperti ada
embik terpatah dan ia membayangkan hutan terbakar dan setelah api ....
Teriaknya, "Itu semua pemandangan bagi kalian saja,
para manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!"
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
BUNGA, 2
mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika
pemilik
taman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia ingin
berkata
jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isaratnya -- tak
ada
alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin
menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta
itu
kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya
selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan
menjelma
pendar-pendar di permukaan kolam
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
BUNGA, 3
seuntai kuntum melati yang di ranjang itu sudah berwarna
coklat ketika tercium udara subuh dan terdengar ketukan di pintu
tak ada sahutan
seuntai kuntum melati itu sudah kering: wanginya mengeras
di empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di udara ketika terdengar ada
yang memaksa membuka pintu
lalu terdengar seperti gema "hai, siapa gerangan
yang telah membawa pergi jasadku?"
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Akulah si Telaga
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
akulah si telaga, berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Aku Ingin
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Langganan:
Postingan (Atom)